Rabu, 11 September 2019

GANESA ENDAPAN EMAS PLACER (ENDAPAN EMAS ALUVIAL)





GANESA ENDAPAN EMAS PLACER ( ENDAPAN ALUVIAL EMAS)


 


Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser.
Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit, pertama sebagai urat (vein) dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit, dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native terbentuk karena adanya kegiatan vulkanisma, bergerak berdasarkan adanya thermal atau adanya panas di dalam bumi, tempat tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan hasil transportasi dari endapan primer umum disebut dengan emas endapan flaser, sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir dengan mineral silikat, perak, platina, pirit dan lainnya.


Emas dikatakan sebagai logam mulia karena secara kimia emas atau aurum (Au) tergolong dalam kelompok logam Inert (Ag, Au, Pt) yaitu logam yang sulit bereaksi. Emas juga dikatakan logam mulia karena keterdapatannya di bumi sangat langka dan memiliki genesis yang spesifik.
Endapan emas tersebar dalam batuan-batuan yang berumur Tersier Akhir – Pra Kambrium (2 - 570 juta tahun). Endapan ini dibedakan atas dua macam, yaitu primer dan sekunder, yang terbentuk dalam berbagai kondisi geologi. Banyaknya gunungapi dengan segala aktifitasnya dan iklim tropis yang dimiliki Indonesia memungkinkan terdapat kedua jenis endapan tersebut. Bijih (ore) emas terdapat dalam cebakan-cebakan dengan bermacam-macam tipe di dalam batuan beku, sedimen, dan malihan (metamorfik).




SEBAGIAN BESAR ENDAPAN EMAS BERASAL DARI PROSES MAGMATIS ATAU PENGKONSENTRASIAN DI PERMUKAAN, BEBERAPA ENDAPAN TERBENTUK KARENA PROSES METASOMATISME KONTAK DAN LARUTAN HIDROTERMAL, SEDANGKAN PENGKONSENTRASIAN SECARA MEKANIS (FAKTOR ALAM) MENGHASILKAN ENDAPAN LETAKAN (PLACER).

Secara umum, keterdapatan emas di alam bisa berupa sebagai ‘cebakan emas primer’ dan / atau ‘endapan emas sekunder’. Cebakan emas primer di alam terbentuk akibat adanya aktivitas magma di dalam perut bumi yang menerobos lapisan kulit bumi melalui bidang lemah atau mengisi rekahan yang disebut sebagai vein atau berupa vein let. Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap proses pembentukan ‘cebakan emas primer’ ini, disamping dipengaruhi oleh jenis magma yang mengandung unsur logam emas juga dipengaruhi oleh lingkungan pembentukannya seperti struktur batuan maupun jenis batuannya. Keberadaan logam emas dalam batuan bisa berbentuk nuggets berupa logam emas murni (native gold) bisa juga berupa butiran emas yang sangat halus yang terjebak di dalam mineral sulfida, atau mineral oksida lainnya. Sedangkan terbentuknya ‘endapan emas sekunder’ diakibatkan oleh adanya proses pelapukan batuan (cebakan emas primer) baik secara fisik maupun kimia dan tertranportasi baik air sungai maupun ‘gletzer’ serta diendapkan sebagai ‘endapan eluvial’ atau ‘endapan aluvial’. Keterdapatan emas di alam demikian ini sering disebut sebagai ‘cebakan emas sekunder’ atau lebih dikenal sebagai ‘cebakan emas letakan’.Mineralogi Logam emas besifat lunak dan mudah ditempa (moleable), kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 pada skala Moh’s, serta  berat


jenisnya bergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang terpadu dengannya (Tabel 1).
                 Tabel 3.1 Karakteristik Emas.

Aspek
Sifat
Rumus Kimia Warna

Kilap Goresan
Berat Jenis (gr/cm3)
Kekerasan (Moh’s) Bentuk Kristal Belahan
Moleable
Au
Kuning, Jingga, Kuning Keputihan, Merah Keputihan.
Metalik Kuning 15,5 – 19,3
2,5 – 3
Isometrik, Kristal Jarang Retakan Kasar
Lunak dan Mudah Ditempa

Mineral bijih emas yang penting dapat dikelompokkan menjadi emas native dan campuran, tellurida, serta selenida, sulfida, dan antimonida (Tabel 2).
Hampir semua bijih emas mengandung perak. Makin besar kandungan peraknya kilap menjadi makin putih.
Mineral-mineral gangue yang umum dijumpai bersama bijih emas adalah kuarsa; tetapi karbonat-karbonat, turmalin dan fluorit sering pula berasosiasi dengannya. Emas umumnya terikat di dalam sulfida-sulfida logam dan hasil pelapukannya. Sulfida-sulfida yang dimaksudkan adalah pirit, kalkopirit, galenit, stibnit, tetraedrit, sfalerit, arsenopirit, dan molybdenit.


Tabel 3.2 Kelompok mineral bijih emas

Kelompok
Mineral Bijih Emas
Rumus Kimia
Native dan Campuran
Emas native Electrum Auricuprida Rozhkovit Tetraauricuprida Maldonit
Emas palladium Emas iridic Emas rhodian
Emas bismuthian Emas cuprian Cuprian electrum Zvyagintsevit
AuAg
AuAg (20 – 50%)
Cu3Au2 AuPd CuAu Au2Bi AuPd AuIr AuRb AuBi AuCu AuAgCu
(Pd.Pt.Au)3(Pb.Sn)
Tellurida
Calaverit Krenerit Montbrayit Muthmannit Sylvanit Kostovit Nagyagit Bogdanovit Bessmertnovit Bilibinshit Petzit
(AuAg)Te2 AuTe2 (AuSb)2Te3 (AgAu)Te (AuAg)Te4 AuCuTe4 Pb5Au(TeSb4)S5
Au5(CuFe)3(TePb)2
Au4Cu(TePb) Au3Cu2Te2 Ag3Au2Te
Selenida, Sulfida, dan Antimonida
Fischesserit Uytenbogaardtit Aurostibite
Sulfida (pirit dan arsenopirit yang mengandung emas).
Ag3AuSe2 Ag3AuS2
Aub2


Jenis endapan emas sekunder yang dapat terjadi apabila adanya proses erosi tubuh bijih (ore body) pada model cebakan diatas dapat menghasilkan jenis endapan emas letakan (placer), biasanya berupa material pasir dan kerikil, terkonsolidasi ataupun tidak dengan sejumlah kecil emas native dan mineral berat. Emas letakan (placer) terbentuk di sepanjang lembah sungai atau pada teras-teras sungai lama.