GANESA ENDAPAN EMAS PLACER ( ENDAPAN ALUVIAL EMAS)
Emas terbentuk dari proses
magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk
karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan
pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa
emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser.
Emas terdapat di alam dalam dua tipe
deposit, pertama sebagai urat (vein) dalam batuan beku, kaya besi dan
berasosiasi dengan urat kuarsa. Lainnya yaitu endapan atau placer deposit,
dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan
terendapkan karena berat jenis yang tinggi. Emas native terbentuk karena adanya
kegiatan vulkanisma, bergerak berdasarkan adanya thermal atau adanya panas di
dalam bumi, tempat tembentukan emas primer, sedangkan sekudernya merupakan
hasil transportasi dari endapan primer umum disebut dengan emas endapan flaser,
sedangkan asosiasi emas atau emas bersamaan hadir dengan mineral silikat,
perak, platina, pirit dan lainnya.
Emas dikatakan sebagai logam mulia
karena secara kimia emas atau aurum (Au) tergolong dalam kelompok logam Inert
(Ag, Au, Pt) yaitu logam yang sulit bereaksi. Emas juga dikatakan logam mulia
karena keterdapatannya di bumi sangat langka dan memiliki genesis yang
spesifik.
Endapan emas tersebar dalam
batuan-batuan yang berumur Tersier Akhir – Pra Kambrium (2 - 570 juta tahun).
Endapan ini dibedakan atas dua macam, yaitu primer dan sekunder, yang terbentuk
dalam berbagai kondisi geologi. Banyaknya gunungapi dengan segala aktifitasnya
dan iklim tropis yang dimiliki Indonesia memungkinkan terdapat kedua jenis
endapan tersebut. Bijih (ore) emas terdapat dalam cebakan-cebakan dengan bermacam-macam tipe di
dalam batuan beku, sedimen, dan malihan (metamorfik).
SEBAGIAN BESAR ENDAPAN EMAS BERASAL DARI PROSES MAGMATIS ATAU
PENGKONSENTRASIAN DI PERMUKAAN, BEBERAPA ENDAPAN TERBENTUK KARENA PROSES
METASOMATISME KONTAK DAN LARUTAN HIDROTERMAL, SEDANGKAN PENGKONSENTRASIAN
SECARA MEKANIS (FAKTOR ALAM) MENGHASILKAN ENDAPAN LETAKAN (PLACER).
Secara umum, keterdapatan emas di
alam bisa berupa sebagai ‘cebakan emas primer’ dan / atau ‘endapan emas
sekunder’. Cebakan emas primer di alam terbentuk akibat adanya aktivitas magma
di dalam perut bumi yang menerobos lapisan kulit bumi melalui bidang lemah atau
mengisi rekahan yang disebut sebagai vein
atau berupa vein let. Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap proses pembentukan
‘cebakan emas primer’ ini, disamping dipengaruhi oleh jenis magma yang
mengandung unsur logam emas juga dipengaruhi oleh lingkungan pembentukannya
seperti struktur batuan maupun jenis batuannya. Keberadaan logam emas dalam
batuan bisa berbentuk nuggets
berupa logam emas murni (native gold) bisa juga berupa butiran emas yang sangat halus yang terjebak di
dalam mineral sulfida, atau mineral oksida lainnya. Sedangkan terbentuknya
‘endapan emas sekunder’ diakibatkan oleh adanya proses pelapukan batuan
(cebakan emas primer) baik secara fisik maupun kimia dan tertranportasi baik
air sungai maupun ‘gletzer’ serta diendapkan sebagai ‘endapan eluvial’ atau
‘endapan aluvial’. Keterdapatan emas di alam demikian ini sering disebut
sebagai ‘cebakan emas sekunder’ atau lebih dikenal sebagai ‘cebakan emas
letakan’.Mineralogi Logam emas besifat lunak dan mudah ditempa (moleable), kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 pada skala Moh’s, serta berat
jenisnya bergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang terpadu
dengannya (Tabel 1).
Tabel 3.1 Karakteristik Emas.
|
Aspek
|
Sifat
|
|
Rumus Kimia Warna
Kilap Goresan
Berat Jenis
(gr/cm3)
Kekerasan (Moh’s) Bentuk
Kristal Belahan
Moleable
|
Au
Kuning, Jingga, Kuning Keputihan,
Merah Keputihan.
Metalik Kuning 15,5 – 19,3
2,5 – 3
Isometrik, Kristal Jarang
Retakan Kasar
Lunak dan Mudah Ditempa
|
Mineral bijih emas yang penting
dapat dikelompokkan menjadi emas native dan campuran, tellurida, serta
selenida, sulfida, dan antimonida (Tabel 2).
Hampir semua bijih emas mengandung perak. Makin besar kandungan
peraknya kilap menjadi makin putih.
Mineral-mineral gangue yang umum
dijumpai bersama bijih emas adalah kuarsa; tetapi karbonat-karbonat, turmalin
dan fluorit sering pula berasosiasi dengannya. Emas umumnya terikat di dalam
sulfida-sulfida logam dan hasil pelapukannya. Sulfida-sulfida yang dimaksudkan
adalah pirit, kalkopirit, galenit, stibnit, tetraedrit, sfalerit, arsenopirit,
dan molybdenit.
Tabel 3.2
Kelompok mineral bijih emas
|
Kelompok
|
Mineral
Bijih Emas
|
Rumus
Kimia
|
|
Native dan
Campuran
|
Emas native Electrum Auricuprida Rozhkovit
Tetraauricuprida Maldonit
Emas palladium Emas iridic Emas rhodian
Emas bismuthian Emas cuprian Cuprian
electrum Zvyagintsevit
|
AuAg
AuAg (20 – 50%)
Cu3Au2 AuPd
CuAu Au2Bi AuPd AuIr AuRb AuBi AuCu AuAgCu
(Pd.Pt.Au)3(Pb.Sn)
|
|
Tellurida
|
Calaverit Krenerit Montbrayit Muthmannit
Sylvanit Kostovit Nagyagit Bogdanovit Bessmertnovit Bilibinshit Petzit
|
(AuAg)Te2 AuTe2 (AuSb)2Te3 (AgAu)Te
(AuAg)Te4 AuCuTe4 Pb5Au(TeSb4)S5
Au5(CuFe)3(TePb)2
Au4Cu(TePb)
Au3Cu2Te2 Ag3Au2Te
|
|
Selenida, Sulfida, dan Antimonida
|
Fischesserit Uytenbogaardtit Aurostibite
Sulfida (pirit dan arsenopirit yang
mengandung emas).
|
Ag3AuSe2 Ag3AuS2
Aub2
|
Jenis endapan emas sekunder yang
dapat terjadi apabila adanya proses erosi tubuh bijih (ore body) pada model cebakan diatas dapat menghasilkan jenis endapan emas
letakan (placer), biasanya berupa material pasir dan kerikil, terkonsolidasi
ataupun tidak dengan sejumlah kecil emas native dan mineral berat. Emas
letakan (placer) terbentuk di sepanjang lembah sungai atau pada teras-teras sungai
lama.